Jumat, 02 Desember 2011

Sebuah Renungan, Masihkah Kalian Mengeluh Setelah Melihat Foto-foto ini?

Jika kamu merasa pekerjaan anda sangatlah berat, bagaimana dengan dia??


Bila Anda merasa gaji anda sangat sedikit, bagaimana dengan anak yg malang ini??


Jika Kamu merasa belajar adalah sebuah beban, contohlah semangat dia..


Jika kamu sempat merasa putus asa, ingatlah orang ini!


Pantaskah kita mengeluh tentang makanan disaat ia sedang membayangkan makan happy meal??


Jika Kamu merasa hidup Kamu sangat menderita, apakah Kamu juga merasakan penderitaan seperti orang ini??


Jika Kamu merasa hidup Kamu tidak adil, bagaimana dengan dia??


Di saat kita kecil dimanja dan di sayang, manjakah mereka??


Tidakah merasa bersalah kita masih selalu tidak mendengarkan bahkan melawan ibu kita?


Bukan komentar penyesalan yang admin minta buat menuh2in kotak komentar, tapi berjanjilah para diri sendiri, lalu lakukan. Talk less do More! terima kasih udah lihat postingan ini.. sebarkan lewat share box dibawah jika dirasa ini penting untuk orang2 yang kalian sayangi..
Read More ..

Jumat, 25 November 2011

Aku Lelah Tuhan

Terkadang aku menjadi begitu lelah, terutama dalam menata hati. Ada banyak bagian yang begitu susah kumengerti, ntah bagaimana Tuhan menjadikannya hingga begitu rumit untuk kupahami. Bukan hanya perasaan cinta yang harus kutahan agar tak menggebu, atau perasaan sedih yang harus ku urai agar tak menyepi aku dalam lubang hitam pekat tak bermassa. Banyak hal yang masih tak kumengerti tentang rasa, tentang emosi, dan tentang jiwa. Waktu dua puluh tahun belum cukup bagiku memetakan sifat-sifat dasar manusia. Lelah, aku begitu lelah. Ingin berbaring sejenak untuk melepas penat, namun rasanya akan sangat sulit. Berbaring hibernasi puluhan abad pun tetap tak akan mampu mengangkat rasa letih ini. Rasa yang begitu membuatku menghela nafas panjang. Aku capek!

Tuhan, aku lelah. Aku merasa Engkau mengerti

Tuhan, sungguh aku kelelahan. Engkau tahu kan, kadang sikapku seperti malaikat.
Namun tak jarang aku menunjukkan wajah iblis dan setan-setan yang Kau kutuk itu.
Aku berikan efek dualisme kepada manusia agar mereka mengerti, apapun wajahku adalah tetap aku. Agar mereka mengerti bahwa pemilik segala kegelapan dan cahaya terang benderang adalah Engkau. Agar mereka mengerti, butuh cahaya untuk berjalan dalam jalan gelap menuju-Mu.
Tuhan, aku merasa Engkau terlalu banyak diam terutama terhadapku.
Marahkah Engkau? Tidak inginkah Engkau menjadikan aku seperti dahulu, kita saling tertawa saling curhat-curhatan. Aku curhat tentang masalahku dan Engkau tentang tugas-Mu.
Kau selalu membimbingku selaku layaknya guru, hingga hidup pun terdiam tak memiliki ruang untuk cemburu. Aku menyebut nama-Mu seribu kali dan Engkau pun bernyanyi dengan namaku sejuta kali. Sungguh indah, namun itu dulu. Aku tak mengerti, sejak kapan Engkau mulai diam terhadapku.

Tuhan, sumpah aku teramat lelah.

Berbicaralah, jangan terus diam.

Berikan aku petunjuk atau hatiku telah terlalu hitam hingga suara-Mu yang keras mengguntur sama sekali tak kudengarkan?! Atau sudah terlalu tulikah aku? Tak Engkau gubris air mataku yang terus mengucur dimalam-malamku? Namun terhadap manusia aku tetap tertawa, tersenyum seolah tak ada yang terluka. Padahal sejatinya aku sedang sekarat dan jiwaku yang kehausan amat begitu letih. Tuhan, Engkau tahu apa yang paling kutakutkan? Jika aku bertemu dengan-Mu tanpa perasaan cinta. Aku takut jika aku bertemu dengan-Mu kelak yang ada hanyalah perasaan takut.
Sungguh jangan seperti itu.
Berikan aku rasa cinta kepada-Mu lebih luas dari dunia dan segala isinya. Agar tak letih aku menunggu kapan Engkau cabut akar jiwa ini.

Tuhan, aku ingin Memeluk-Mu, atau menyandarkan Kepalaku .
Sungguh rasa ini memuncak, memberi rasa letih dan harapan cemas, Tuhan, aku menunggu… dalam letih. Tuhan, jangan terlalu lama. Sungguh aku teramat lelah.
Read More ..

Kamis, 24 November 2011

Sharing Dengan Tuhan

Tuhan, di malam ini aku hanya ingin bercerita banyak dengan-Mu. Tentu Kamu punya waktu, aku tahu kamu pasti punya waktu. Sebab aku kesepian disini. Ah, itupun kalau Kamu ada diatas. Mungkin juga Kamu ada di bawah kan? Atau sedang ada disampingku malah? Kalau dihitung hitung, senang kiranya Kamu kuajak mengobrol begini. Setidaknya sekedar pengusir bosan ditengah kesendirianku ini. Iya kan?

Aku hanya ingin sharing sedikit tentang kehidupan ini Tuhan. Ah bagaimana aku harus memanggil-Mu? Nama panggilan-Mu pun aku tak tahu? karena begitu banyak nama-Mu. Apa kiranya yang enak? Huh, kamu selalu diam saja. Baiklah, agar lebih akrab, bagaimana kalau kupanggil dengan Han saja? Bagaimana?

OK. Kalau begitu Han saja.

Begini Han, aku cuma sedang sesak saja berjalan di bumi-Mu ini. Makanya aku ingin bicara banyak seputar hidup di dunia, yang ENGKAU sendiri buat, tentu sedang tertawa-tawa di sana mendengar ini semua. Iya kan? Ah terserah kau lah. Tertawa lah sepuasmu, tapi please… dengarkan segala ocehanku ya, ya, ya ?

Han kenapa  benda di dunia yng bernama uang Han ciptakan??

Han...... 
Uang, uang, uang, uang. Uang bertebaran, laksana daun.
Mudah datang mudah pergi. Seperti bergantinya musim.
Uang menjadi sumber pertikaian, perkelahian, dan keserakahan.
Tangis bisa terjadi. Gembira bisa bermakna.
Adapun uang menjadi tuan atas kita. Memperbudak kita untuk mengejarnya??

Han....
Uang adalah Kertas itu ampuh
Dahsyat
Putuskan pelangi indah persaudaraan
Rubah teman menjadi lawan
Bisukan mulut-mulut manusia
Menghapus hitam menjadi putih
Melukis putih menjadi hitam
Membunyikan palu sang hakim
Membuat kepala terangguk
Membeli tawa
Membeli teman
Bahkan membeli harga diri pun mampu

Tahu lah Han....

Terima kasih ya sudah menemaniku malam-malam begini. Tentu kamu banyak tugas yang lain. Kamu memang the best. Baiklah, aku sudah puas sekarang. Aku tahu kamu membisu demi kebaikan hubungan kita kan? Antara kamu dan aku. Antara kamu dengan seisi penghuni bumi. Iya kan? Iya kan Han? Semoga saja.
Read More ..

Selasa, 22 November 2011

Dalam Diam ku

Diam, Termenung, dan Diam
Memandang kelamnya malam
Memandang taburan bintang di angkasa
Melihat bayangan di atas wajahku
Termenung ‘ku melangkah di hidup ini
Hanya ada renungan yang membayang di pikiranku
Wahai dunia, apakah ini yang sebenarnya
Sungguh indah di cahaya mata
Tapi ntahlah yang sebenarnya
Seakan sendiri melangkah pahitnya hidup ini
Mungkin ‘ku tak sendiri
Seandainya kau ada di sini denganku
Berbagi rasa yang sama
Walaupun takkan pernah sama
Tapi hanya bayangmu yang selalu menemaniku
Hiasi malam sepiku
‘Ku sangat ingin bersama dirimu
Memang tak selalu ada yang terbaik
Dari diri ini
Tapi ‘ku tak akan pernah berpaling darimu
Jiwa, rasa, dan kisana
Sanggupkah ‘ku terus terlena
Tanpa ada seorangpun yang menemaniku
Ntahlah…
Hanya pikiran yang mematung tersirat
Syair ini seutas lintasan dalam pikiranku
Untuk diriku seorang, atau juga untuk dirimu
Ntahlah…
Seperti terbesit heningan diriku
Ya karim, Ya rahman
Hanya kepadamu aku berpulang dan menghiba
Tentang semua yang terjadi dalam hidupku
Sesungguhnya aku hanya sebidak catur dalam permainan catur
Yang telah engkau ciptakan..
Tapi semua akan ‘ku jalani
Seperti rambut ini yang kian memutih
Menunggu dan melangkah seorang diri
Seperti untaian bunga krisan yang berguguran
Mata ini merah menahan tangis


Banyak cerita yang ingin kujelaskan pada diriku sendiri.
Namun diam adalah jalan yang kupaksakan pada hujan hari ini.

Read More ..

Diam dalam Seni

Bukankah diam adalah perjalanan paling puisi?
Seperti di perjalanan, berdiam tanpa melakukan apapun memerlukan rute, juga waktu, sering juga alasan meski terkadang tanpa tujuan.Dan sunyi!

Bukankah kesunyian adalah perjalanan paling puisi?
Sunyi mampu mendengar denting hati. Seperti malam yang mendengar bunyian. Seperti hening yang membuka jendela jiwa. Seperti di kesenyapan gerak diam, jiwa menemukan dentum iramanya. Demikianlah jalan sunyi mempertemukan dengan kekasih jiwa. Ketika diam adalah puncak rasa,
melampaui semua tanda baca dan kata-kata.
Pejamkan mata. Sebab dengan tanpa melakukan apapun, kita membaca semesta. Membiarkannya melingkupi seperti angin seperti udara seperti hampa yang demikian penuh.
Menjadi satu dengan semesta.
Read More ..